Jumat, 21 Juni 2013

TANAMAN JAHE



I.                    Mengenal Tanaman Jahe.      Identifikasi tanaman jahe, menyangkut bahasa ilmiah, wilayah tumbuh, uraian tumbuhan, kandungan kimia, kandungan manfaat dan macam-macam kegunaan lainnya.

·                     Latin                :
-  Zingiber officinale Rosc.
                        -  Z.o.var amarun (pahit)
                        -  Z.o.var rubrum (merah)

·                     Indonesia         : 
-  Jahe pahit (Z.o. var. Amarun)
                        -  Halia padi (rasanya amat tajam)
                        -  Sunti (Z.o. var.rubrum)
                        -  Halia barah atau H. Rubrum (merah)
                        -  Jae/ jhai
                        -  Bahing/ Pemedas /Sipadeh            

·                     English : Ginger
·                     Familia : Zingiberaceae

a.                   Asal Wilayah :
             Tumbuhan ini berasal dari Asia Selatan (India) dan RRC, kini ditemukan di wilayah
tropis dan subtropis, contohnya di Indonesia. Tanaman jahe biasanya ditanam di daerah
beriklim panas, terutama di tanah gembur, kering dan subur. Jahe yang amat baik dihasilkan
di Jamaika, Sri Langka dan Cina. Tanaman jahe bisa dipanen apabila daunnya telah
menguning.

b.                   Uraian Tumbuhan Jahe :
              Zinger officinale merupakan tumbuhan herba menahun yang tumbuh liar di ladang –
ladang berkadar tanah lmbab dan memperoleh banyak sinar matahari. Batangnya tegak,
berakar serabut dan berumbi dengan rimpang mendatar. Tumbuha semak berbatang semu ini
tingginya bisa mencapai 30cm – 1m. Rimpang jahe berkulit agak tebal membungkus daging
umbi yang berserat dan berwarna coklat beraoma khas. Bentuk daun bulat panjang dan tidak
lebar. Berdaun tunggal, berbentuk lanset dengan panjang antara 15 – 28mm. Bunga memiliki
2 kelamin dengan 1 benang sari dan 3 putik bunga. Bunga ini muncul pada ketiak daun
dengan posisi duduk. Biasanya jahe ditanam pada dataran rendah sampai dataran tinggi
(daerah subtropis dan tropis) diketinggian 1500m diatas permukaan laut. Akarnya akan
serabut.

Kandungan Kimia.       Rimpang jahe mengandung minyak atsiri, damar, mineral sineol,
fellandren, kamfer, borneol, zingiberin, zingiberol, gigero (misalnya di bagian-bagian merah),
zingeron, lipidas, asam aminos, niacin, vitamin A, B1, C dan protein. Minyak jahe merah
berwarna kuning dan kental. Minyak ini kebanyakan mengandung terpen, fellandren,
dextrokamfen, bahan sesquiterpen yang dinamakan zingiberen, zingeron damar, pati.

c.                   Kandungan dan Manfaat :
                          Menurut Farmakope Belanda, Zingiber Rhizoma (Rhizoma Zingiberis- akar jahe)
            yang berupa umbi Zingerber officinale mengandung 6% bahan obat-obatan yang sering
           dipakai sebagai rumusan obat-obatan atau sebagai obat resmi di 23 negara. Menurut daftar
           prioritas WHO, jahe merupakan tanaman obat-obatan yang paling banyak dipakai di dunia. Di
           negara Malaysia, Filipina dan Indonesia telah banyak ditemukan manfaat therapeutis. Sejak
           dulu Jahe dipergunakan sebagai obat, atau bumbu dapur dan aneka keperluan Iainnya. Jahe
           dapat merangsang kelenjar pencernaan, baik untuk membangkitkan nafsu makan dan
           pencernaan. Jahe berguna sebagai obat gosok untuk penyakit encok dan sakit kepala. Jahe
           segar yang ditumbuk halus dapat digunakan sebagai obat luar untuk sebagai obat mulas. Rasa
           dan aromanya pedas dapat menghangatkan tubuh dan mengeluarkan keringat. Minyak
           atsirinya bermanfaat untuk menghilangkan nyeri, anti inflamasi dan anti bakteri. Air perasan 
           umbinya (akar tongkat) digunakan untuk penyakit katarak. Pada umumnya jahe dipakai
           sebagai pencampur beberapa jenis obat yaitu sebagai obat batuk, rnengobati Iuka luar dan
           dalam ,melawan gatal (umbinya ditumbuk haIus) dan untuk mengobati gigitan ular.

d.                   Kegunaan lain :

* Sakit kepala / migrain
* Batuk
* Masuk Angin
* Rematik, nyeri pinggang, nyeri punggung
* Mengeluarkan gas dari perut
* Bengkak-bengkak (rimpangnya)
* Mual, mabuk di perjalanan
* Eksem
* Panu
* Terkilir
* Vitiligo (bercak putih karefla kehilangan pigmen)
* Borok
* Digigit ular
* Gatal karena gigitan serangga
* Penyakit cacing gelang

II.                  Jenis Tanaman Jahe
Jahe dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan ukuran, bentuk dan warna rimpangnya. Umumnya dikenal 3 varietas jahe, yaitu :


a.                   Jahe putih/kuning besar  atau disebut juga jahe gajah atau jahe badak Rimpangnya lebih besar dan gemuk, ruas rimpangnya lebih menggembung dari kedua varietas lainnya. Jenis jahe ini bias dikonsumsi baik saat berumur muda maupun berumur tua, baik sebagai jahe segar maupun jahe olahan.

b.                   Jahe putih/kuning kecil  atau disebut juga jahe sunti atau jahe emprit Ruasnya kecil, agak rata sampai agak sedikit menggembung. Jahe ini selalu dipanen setelah berumur tua. Kandungan minyak atsirinya lebih besar dari pada jahe gajah, sehingga rasanya lebih pedas, disamping seratnya tinggi. Jahe ini cocok untuk ramuan obat-obatan, atau untuk diekstrak oleoresin dan minyak atsirinya.

c.                   Jahe merah.    Rimpangnya berwarna merah dan lebih kecil dari pada jahe putih kecil sama seperti jahe kecil, jahe merah selalu dipanen setelah tua, dan juga memiliki kandungan minyak atsiri yang sama dengan jahe kecil, sehingga cocok untuk ramuan obat-obatan.


III.                Syarat Pertumbuhan tanaman jahe


a.                   Syarat pertumbuhan tanaman jahe iklim :

1.                   Tanaman jahe membutuhkan curah hujan relatif tinggi, yaitu antara 2.500-4.000 mm/tahun.
2.                   Pada umur 2,5 sampai 7 bulan atau lebih tanaman jahe memerlukan sinar matahari. Dengan kata lain penanaman jahe dilakukan di tempat yang terbuka sehingga mendapat sinar matahari sepanjang hari.
3.                   Suhu udara optimum untuk budidaya tanaman jahe antara 20-35°C.

b.                   Media tanam :

1.                   Tanaman jahe paling cocok ditanam pada tanah yang subur, gembur dan banyak mengandung humus.
2.                   Tekstur tanah yang baik adalah lempung berpasir, liat dan tanah laterik.
3.                   Tanaman jahe dapat tumbuh pada keasaman tanah (pH) sekitar 4,3-7,4. Tetapi keasaman tanah (pH) optimum untuk jahe gajah adalah 6,8-7,0.

c.                   Ketinggian tempat :

1.                   Jahe tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis dengan ketinggian 0 - 2.000 m dpl.
2.                   Di Indonesia pada umumnya ditanam pada ketinggian 200 - 600 m dpl.


IV.               Memilih Bibit Jahe Berkualitas

Memilih bibit berkualitas adalah bibit yang memenuhi syarat mutu genetik, mutu fisiologik (persentase tumbuh yang tinggi), dan mutu fisik. Yang dimaksud dengan mutu fisik adalah bibit yang bebas hama dan penyakit.


Oleh karena itu kriteria yang harus dipenuhi antara lain :
a.                   Bahan bibit diambil langsung dari kebun (bukan dari pasar).
b.                   Dipilih bahan bibit dari tanaman yang sudah tua (berumur 9-10 bulan).
c.                   Dipilih pula dari tanaman yang sehat dan kulit rimpang tidak terluka atau lecet.

V.                 Teknik Penyemaian Bibit Jahe

Untuk pertumbuhan tanaman yang serentak atau seragam, bibit jangan langsung ditanam sebaiknya terlebih dahulu dikecambahkan. Penyemaian bibit dapat dilakukan dengan peti kayu atau dengan bedengan.

a.      Penyemaian Jahe pada Peti Kayu.
Rimpang jahe yang baru dipanen dijemur sementara (tidak sampai kering), kemudian disimpan sekitar 1-1,5 bulan. Patahkan rimpang tersebut dengan tangan dimana setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas dan dijemur ulang ½-1hari. Selanjutnya potongan bakal bibit direndam dengan larutan PHEFOC selama 20menit kemudian ditiriskan dan direndam lagi dengan larutan SOT selama 1 X 24jam lalu masukkan kedalam peti kayu. Lakukan cara penyemaian dengan peti kayu sebagai berikut:
·       Pada bagian dasar peti kayu diletakkan bakal bibit selapis, kemudian di atasnya diberi abu gosok atau sekam padi yang sudah difermentasi SOT, demikian seterusnya sehingga yang paling atas adalah abu gosok atau sekam padi (bisa dilaksanakan sampai dengan 3 lapis). Setelah 2-4 minggu bibit jahe tersebut sudah siap disemai ke polibek kecil (1Kg).

b.      Penyemaian Jahe pada Bedengan.
Buat rumah penyemaian sederhana 10 X 8m untuk menanam bibit 1 Ton (kebutuhan Jahe seluas 1 Ha). Didalam rumah penyemaian tersebut dibuat bedengan dari tumpukan jerami setebal 10 cm. Rimpang bakal bibit disusun pada jerami lalu ditutup jerami, dan di atasnya diberi rimpang lalu diberi jerami pula demikian seterusnya, sehingga didapat 4 susunan lapis rimpang dengan bagian atas berupa jerami. Perawatan bibit pada bedengan dapat dilakukan dengan penyiraman setiap hari dengan larutan SOT dan jeda 3 hari dilakukan penyemprotan larutan PHEFOC  begitu seterusnya sampai usia 2 minggu. Kemudian bakal bibit diseleksi dan dipatah-patahkan dengan tangan, setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas  dan beratnya 40-60 gram.

c.       Penyiapan Bibit/ peremaian dalam polibek.
Sebelum ditanam, bibit harus dibebaskan dari ancaman penyakit dengan cara bibit tersebut direndam dengan larutan PHEFOC selama 20 menit kemudian ditiriskan dan direndam lagi dengan larutan SOT selama 1 X 24 jam tiriskan kembali, bibit siap ditanam dalam polibek kecil ukuran 1 Kg yang berisi media bokasih olahan fermentasi SOT. Setelah tunas setinggi 10 Cm siap dipindahkan karung besar dengan isi media setinggi 30 cm
dan dicelupkan ke dalam larutan fungisida sekitar 8 jam. Kemudian bibit dijemur 2-4 jam, barulah ditanam.

VI.               Kiat Menyimpan Bibit Jahe

 
Menyimpan bibit jahe (Zingiher officinal) tidak terlepas dari bibit jahe yang ditanam. Dengan demikian tanaman sudah dirawat baik, tetapi jika bibit yang ditanam kualitasnya jelek maka hasil yang diperoleh akan kurang memuaskan. Namun, masalah bibit ini seringkali diabaikan oleh para petani dan mereka masih sering menggunakan bibit jahe yang berkualitas jelek.
Dalam hal ini misalnya menggunakan bibit yang belum cukup tua, mengandung hama maupun penyakit. Nah, supaya jahe yang ditanam hasilnya memuaskan, selain tanaman harus dirawat dengan baik dan ditanam pada tempat yang cocok, juga bibinya harus baik pula.

a.                   Syarat rimpang jahe yang baik untuk tanam yaitu :

1.                   Rimpang jahe yang berasal dari tanaman jahe berumur sekitar 10-12 bulan, yang ditandai oleh tajuk batangnya yang mulai mengering.
2.                   Kulit rimpangnya licin dan keras.
3.                   Tidak mudah mengelupas
4.                   Warna mengkilap dan menampakkan tanda bertunas
5.                   Kandungan serat rimpangnya tinggi dan kasar.
6.                   Rimpangnya terbebas dari penyakit dan hama.

1)                   Rimpang jahe yang terserang penyakit yakni : 

a)                   Warna kulitnya tidak cerah,berkerut dan lembek,juga daging rimpang berair
b)                   Warnanya kusam kecokelatan atau ada bagian yang membusuk

2)                   Rimpang jahe yang terkena hama yakni :
-                       Terdapat lubang-lubang kecil yang merupakan tanda bahwa rmpang jahe tersebut diserang hama lalat rimpang.

3)                   Bibit yang sudah menunjukkan adanya gejala serangan hama-penyakit,maka sebaiknya jangan ditanam,karena hasilnya akan mengecewakan ( terjangkit penyakit bakteri Pseudomonas solanacearum atau cendawan/Rhizoctonia solani maupun hama lalat rimpang/Mimegralla coeruleifrons dan Enmerus figurans). Adapun rimpang jahe (bibit) yang baik untuk ditanam sedikitnya mempunyai 3-5 mata tunas,beratnya sekitar 20-40 gram untuk bibit jahe emprit (jahe kecil),dan untuk bibit jahe besar (jahe gajah) sekitar 25-60 gram.

Persoalannya,bibit yang terserang
hama penyakit tersebut jika ditanam akan terbawa masuk ke lahan penanaman dan tanaman yang tumbuh nantinya juga tidak baik,yang akhirnya hasil panen yang diperoleh tidak akan memuaskan,bahkan bisa mengalami gagal panen.Karena itu,bibit jahe yang akan ditanam harus jelas asal-usulnya.
 
 Apabila para petani mengalami kesulitan untuk memperoleh bibit jahe yang baik untuk ditanam,maka kita pun dapat mempersiapkan bibit sendiri.

Caranya,jika bibit jahe yang dibutuhkan hanya sedikit,rimpang yang sudah dipilih dihamparkan di tempat terbuka tetapi tidak terkena sinar matahari secara langsung.Dengan cara ini,kulit rimpang jahe saja yang kering,sedangkan daging rimpang tetap segar.

Jika
bibit jahe yang dibutuhkan dalam jumlah banyak,sebaiknya menggunakan rak bambu,rak kayu atau peti kayu yang tidak rapat.Juga bisa menggunakan keranjang bambu atau dalam karung yang bagian atasnya tetap terbuka dan tidak diisi penuh.Sementara ruang penyimpanannya harus mempunyai sirkulasi udara yang baik,cukup cahaya,tidak lembab dan tidak bocor.

Setelah kulit rimpang kering kemudian ditaburi abu dapur untuk menghin dari tumbuhnya jamur pada rimpang tersebut.Sebaiknya,rimpang jahe untuk bibit ini berasal dari pertatanaman khusus untuk bibit.Cara ini selain bisa diperoleh bibit yang terjamin mutunya juga lebih menjamin kontiunitas tersedianya bibit yang dibutuhkan.Dengan cara penyimpanan yang baik,maka diharapkan akan memperoleh bibit jahe yang baik pula,dan hasil panennya akan memuaskan

NB : ada cara yang lebih sederhana dalam pembenihan, pembibitan dan pola tanam     jahe (hcsjabar@gmail.com)  
Stockist HCS Bandung (Agung HCS00085)

5 komentar:

  1. kalau mau beli bibit jahe merah dmn ne tepatnya?

    BalasHapus
  2. wilayah lampung kayaknya masih belum ada

    BalasHapus
  3. kalau mau beli bibit jahe merah dmn ne tepatnya?

    BalasHapus
  4. Pengen coba tanam di ketinggian 1200.dari permukaan laut

    BalasHapus