I. Mengenal Tanaman Jahe. Identifikasi tanaman jahe, menyangkut bahasa ilmiah, wilayah tumbuh, uraian tumbuhan, kandungan kimia, kandungan manfaat dan macam-macam kegunaan lainnya.
·
Latin :
- Zingiber
officinale Rosc.
- Z.o.var amarun (pahit)
- Z.o.var rubrum (merah)
·
Indonesia :
- Jahe
pahit (Z.o. var. Amarun)
- Halia padi (rasanya amat tajam)
- Sunti (Z.o. var.rubrum)
- Halia barah atau H. Rubrum (merah)
- Jae/ jhai
- Bahing/ Pemedas /Sipadeh
·
English : Ginger
·
Familia : Zingiberaceae
a.
Asal Wilayah :
Tumbuhan
ini berasal dari Asia Selatan (India) dan RRC, kini ditemukan di wilayah
tropis
dan subtropis, contohnya di Indonesia. Tanaman jahe biasanya ditanam di daerah
beriklim panas, terutama di tanah gembur, kering dan subur. Jahe yang amat baik
dihasilkan
di Jamaika, Sri Langka dan Cina. Tanaman jahe bisa dipanen apabila
daunnya telah
menguning.
b.
Uraian Tumbuhan Jahe :
Zinger
officinale merupakan tumbuhan herba menahun yang tumbuh liar di ladang –
ladang
berkadar tanah lmbab dan memperoleh banyak sinar matahari. Batangnya tegak,
berakar serabut dan berumbi dengan rimpang mendatar. Tumbuha semak berbatang
semu ini
tingginya bisa mencapai 30cm – 1m. Rimpang jahe berkulit agak tebal
membungkus daging
umbi yang berserat dan berwarna coklat beraoma khas. Bentuk
daun bulat panjang dan tidak
lebar. Berdaun tunggal, berbentuk lanset dengan
panjang antara 15 – 28mm. Bunga memiliki
2 kelamin dengan 1 benang sari dan 3
putik bunga. Bunga ini muncul pada ketiak daun
dengan posisi duduk. Biasanya
jahe ditanam pada dataran rendah sampai dataran tinggi
(daerah subtropis dan
tropis) diketinggian 1500m diatas permukaan laut. Akarnya akan
serabut.
Kandungan
Kimia. Rimpang jahe mengandung
minyak atsiri, damar, mineral sineol,
fellandren, kamfer, borneol, zingiberin,
zingiberol, gigero (misalnya di bagian-bagian merah),
zingeron, lipidas, asam
aminos, niacin, vitamin A, B1, C dan protein. Minyak jahe merah
berwarna kuning
dan kental. Minyak ini kebanyakan mengandung terpen, fellandren,
dextrokamfen,
bahan sesquiterpen yang dinamakan zingiberen, zingeron damar, pati.
c.
Kandungan dan Manfaat :
Menurut Farmakope
Belanda, Zingiber Rhizoma (Rhizoma Zingiberis- akar jahe)
yang berupa umbi
Zingerber officinale mengandung 6% bahan obat-obatan yang sering
dipakai
sebagai rumusan obat-obatan atau sebagai obat resmi di 23 negara. Menurut
daftar
prioritas WHO, jahe merupakan tanaman obat-obatan yang paling banyak
dipakai di dunia. Di
negara Malaysia, Filipina dan Indonesia telah banyak
ditemukan manfaat therapeutis. Sejak
dulu Jahe dipergunakan sebagai obat, atau
bumbu dapur dan aneka keperluan Iainnya. Jahe
dapat merangsang kelenjar
pencernaan, baik untuk membangkitkan nafsu makan dan
pencernaan. Jahe berguna
sebagai obat gosok untuk penyakit encok dan sakit kepala. Jahe
segar yang
ditumbuk halus dapat digunakan sebagai obat luar untuk sebagai obat mulas. Rasa
dan aromanya pedas dapat menghangatkan tubuh dan mengeluarkan keringat. Minyak
atsirinya bermanfaat untuk menghilangkan nyeri, anti inflamasi dan anti
bakteri. Air perasan
umbinya (akar tongkat) digunakan untuk penyakit katarak.
Pada umumnya jahe dipakai
sebagai pencampur beberapa jenis obat yaitu sebagai
obat batuk, rnengobati Iuka luar dan
dalam ,melawan gatal (umbinya ditumbuk
haIus) dan untuk mengobati gigitan ular.
d.
Kegunaan lain :
* Sakit kepala / migrain
* Batuk
* Masuk Angin
* Rematik, nyeri pinggang, nyeri punggung
* Mengeluarkan gas dari perut
* Bengkak-bengkak (rimpangnya)
* Mual, mabuk di perjalanan
* Eksem
* Panu
* Terkilir
* Vitiligo (bercak putih karefla kehilangan pigmen)
* Borok
* Digigit ular
* Gatal karena gigitan serangga
* Penyakit cacing gelang
* Batuk
* Masuk Angin
* Rematik, nyeri pinggang, nyeri punggung
* Mengeluarkan gas dari perut
* Bengkak-bengkak (rimpangnya)
* Mual, mabuk di perjalanan
* Eksem
* Panu
* Terkilir
* Vitiligo (bercak putih karefla kehilangan pigmen)
* Borok
* Digigit ular
* Gatal karena gigitan serangga
* Penyakit cacing gelang
II.
Jenis Tanaman Jahe
Jahe dibedakan menjadi 3
jenis berdasarkan ukuran, bentuk dan warna rimpangnya. Umumnya dikenal 3
varietas jahe, yaitu :
a.
Jahe
putih/kuning besar atau disebut juga jahe gajah atau jahe badak Rimpangnya lebih besar dan gemuk, ruas
rimpangnya lebih menggembung dari kedua varietas lainnya. Jenis jahe ini bias
dikonsumsi baik saat berumur muda maupun berumur tua, baik sebagai jahe segar
maupun jahe olahan.
b.
Jahe
putih/kuning kecil atau disebut juga jahe sunti atau jahe emprit Ruasnya kecil, agak rata sampai agak
sedikit menggembung. Jahe ini selalu dipanen setelah berumur tua. Kandungan
minyak atsirinya lebih besar dari pada jahe gajah, sehingga rasanya lebih
pedas, disamping seratnya tinggi. Jahe ini cocok untuk ramuan obat-obatan, atau
untuk diekstrak oleoresin dan minyak atsirinya.
c.
Jahe
merah. Rimpangnya berwarna merah dan lebih kecil
dari pada jahe putih kecil sama seperti jahe kecil, jahe merah selalu dipanen
setelah tua, dan juga memiliki kandungan minyak atsiri yang sama dengan jahe
kecil, sehingga cocok untuk ramuan obat-obatan.
III.
Syarat Pertumbuhan tanaman jahe
a.
Syarat pertumbuhan tanaman jahe iklim :
1.
Tanaman jahe membutuhkan curah hujan relatif
tinggi, yaitu antara 2.500-4.000 mm/tahun.
2.
Pada umur 2,5 sampai 7 bulan atau lebih tanaman
jahe memerlukan sinar matahari. Dengan kata lain penanaman jahe dilakukan
di tempat yang terbuka sehingga mendapat sinar matahari sepanjang hari.
3.
Suhu udara optimum untuk budidaya tanaman jahe antara
20-35°C.
b.
Media tanam :
1.
Tanaman jahe paling cocok ditanam pada tanah yang
subur, gembur dan banyak mengandung humus.
2.
Tekstur tanah yang baik adalah lempung berpasir,
liat dan tanah laterik.
3.
Tanaman jahe dapat tumbuh pada keasaman tanah
(pH) sekitar 4,3-7,4. Tetapi keasaman tanah (pH) optimum untuk jahe gajah
adalah 6,8-7,0.
c.
Ketinggian tempat :
1.
Jahe tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis
dengan ketinggian 0 - 2.000 m dpl.
2.
Di Indonesia pada umumnya ditanam pada ketinggian
200 - 600 m dpl.
IV.
Memilih Bibit Jahe Berkualitas
Memilih bibit berkualitas adalah bibit yang memenuhi syarat mutu
genetik, mutu fisiologik (persentase tumbuh yang tinggi), dan mutu fisik. Yang
dimaksud dengan mutu fisik adalah bibit yang bebas hama dan penyakit.
Oleh karena itu kriteria yang harus dipenuhi
antara lain :
b.
Dipilih
bahan bibit dari tanaman yang sudah tua (berumur 9-10 bulan).
c.
Dipilih
pula dari tanaman yang sehat dan kulit rimpang tidak terluka atau lecet.
V.
Teknik Penyemaian Bibit Jahe
Untuk pertumbuhan tanaman yang serentak atau seragam,
bibit jangan langsung ditanam sebaiknya terlebih dahulu dikecambahkan.
Penyemaian bibit dapat dilakukan dengan peti kayu atau dengan bedengan.
a.
Penyemaian Jahe pada Peti Kayu.
Rimpang jahe yang baru
dipanen dijemur sementara (tidak sampai kering), kemudian disimpan sekitar
1-1,5 bulan. Patahkan rimpang tersebut dengan tangan dimana setiap potongan
memiliki 3-5 mata tunas dan dijemur ulang ½-1hari. Selanjutnya potongan bakal
bibit direndam dengan larutan PHEFOC selama
20menit kemudian ditiriskan dan direndam lagi dengan larutan SOT selama 1 X 24jam lalu masukkan kedalam peti kayu. Lakukan cara penyemaian
dengan peti kayu sebagai berikut:
·
Pada
bagian dasar peti kayu diletakkan bakal bibit selapis, kemudian di atasnya
diberi abu gosok atau sekam padi yang sudah difermentasi SOT, demikian
seterusnya sehingga yang paling atas adalah abu gosok atau sekam padi (bisa
dilaksanakan sampai dengan 3 lapis). Setelah 2-4 minggu bibit jahe tersebut
sudah siap disemai ke polibek kecil (1Kg).
b.
Penyemaian Jahe pada Bedengan.
Buat rumah penyemaian sederhana 10 X 8m untuk menanam bibit 1 Ton
(kebutuhan Jahe seluas 1 Ha). Didalam rumah penyemaian tersebut dibuat bedengan
dari tumpukan jerami setebal 10 cm. Rimpang bakal bibit disusun pada jerami
lalu ditutup jerami, dan di atasnya diberi rimpang lalu diberi jerami pula
demikian seterusnya, sehingga didapat 4 susunan lapis rimpang dengan bagian
atas berupa jerami. Perawatan bibit pada bedengan dapat dilakukan dengan
penyiraman setiap hari dengan larutan SOT dan jeda 3 hari dilakukan
penyemprotan larutan PHEFOC begitu
seterusnya sampai usia 2 minggu. Kemudian bakal bibit diseleksi dan
dipatah-patahkan dengan tangan, setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas dan beratnya 40-60 gram.
c.
Penyiapan Bibit/ peremaian dalam polibek.
Sebelum ditanam, bibit
harus dibebaskan dari ancaman penyakit dengan cara bibit tersebut direndam
dengan larutan PHEFOC selama 20 menit kemudian ditiriskan dan direndam lagi
dengan larutan SOT selama 1 X 24 jam tiriskan kembali, bibit siap ditanam dalam
polibek kecil ukuran 1 Kg yang berisi media bokasih olahan fermentasi SOT.
Setelah tunas setinggi 10 Cm siap dipindahkan karung besar dengan isi media
setinggi 30 cm
dan dicelupkan ke dalam
larutan fungisida sekitar 8 jam. Kemudian bibit dijemur 2-4 jam, barulah
ditanam.
VI.
Kiat Menyimpan Bibit Jahe
Menyimpan
bibit jahe (Zingiher officinal) tidak terlepas dari bibit jahe yang ditanam.
Dengan demikian tanaman sudah dirawat baik, tetapi jika bibit yang ditanam
kualitasnya jelek maka hasil yang diperoleh akan kurang memuaskan. Namun, masalah
bibit ini seringkali diabaikan oleh para petani dan mereka masih sering
menggunakan bibit jahe yang berkualitas jelek.
Dalam hal ini misalnya
menggunakan bibit yang belum cukup tua, mengandung hama maupun penyakit. Nah,
supaya jahe yang ditanam hasilnya memuaskan, selain tanaman harus dirawat
dengan baik dan ditanam pada tempat yang cocok, juga bibinya harus baik pula.
a.
Syarat
rimpang jahe yang baik untuk tanam yaitu :
1.
Rimpang
jahe yang berasal dari tanaman jahe berumur sekitar 10-12 bulan, yang ditandai
oleh tajuk batangnya yang mulai mengering.
2.
Kulit
rimpangnya licin dan keras.
3.
Tidak
mudah mengelupas
4.
Warna
mengkilap dan menampakkan tanda bertunas
5.
Kandungan
serat rimpangnya tinggi dan kasar.
6.
Rimpangnya
terbebas dari penyakit dan hama.
1)
Rimpang
jahe yang terserang penyakit yakni :
a)
Warna
kulitnya tidak cerah,berkerut dan lembek,juga daging rimpang berair
b)
Warnanya
kusam kecokelatan atau ada bagian yang membusuk
2)
Rimpang
jahe yang terkena hama yakni :
-
Terdapat
lubang-lubang kecil yang merupakan tanda bahwa rmpang jahe tersebut diserang
hama lalat rimpang.
3)
Bibit
yang sudah menunjukkan adanya gejala serangan hama-penyakit,maka sebaiknya
jangan ditanam,karena hasilnya akan mengecewakan ( terjangkit penyakit bakteri
Pseudomonas solanacearum atau cendawan/Rhizoctonia solani maupun hama lalat
rimpang/Mimegralla coeruleifrons dan Enmerus figurans). Adapun rimpang jahe
(bibit) yang baik untuk ditanam sedikitnya mempunyai 3-5 mata tunas,beratnya
sekitar 20-40 gram untuk bibit jahe emprit (jahe kecil),dan untuk bibit jahe
besar (jahe gajah) sekitar 25-60 gram.
Persoalannya,bibit yang terserang hama penyakit tersebut jika ditanam akan terbawa masuk ke lahan penanaman dan tanaman yang tumbuh nantinya juga tidak baik,yang akhirnya hasil panen yang diperoleh tidak akan memuaskan,bahkan bisa mengalami gagal panen.Karena itu,bibit jahe yang akan ditanam harus jelas asal-usulnya.
Apabila para petani mengalami kesulitan untuk memperoleh bibit jahe yang baik
untuk ditanam,maka kita pun dapat mempersiapkan bibit sendiri.
Caranya,jika bibit jahe yang dibutuhkan hanya sedikit,rimpang yang sudah dipilih dihamparkan di tempat terbuka tetapi tidak terkena sinar matahari secara langsung.Dengan cara ini,kulit rimpang jahe saja yang kering,sedangkan daging rimpang tetap segar.
Jika bibit jahe yang dibutuhkan dalam jumlah banyak,sebaiknya menggunakan rak bambu,rak kayu atau peti kayu yang tidak rapat.Juga bisa menggunakan keranjang bambu atau dalam karung yang bagian atasnya tetap terbuka dan tidak diisi penuh.Sementara ruang penyimpanannya harus mempunyai sirkulasi udara yang baik,cukup cahaya,tidak lembab dan tidak bocor.
Setelah kulit rimpang kering kemudian ditaburi abu dapur untuk menghin dari tumbuhnya jamur pada rimpang tersebut.Sebaiknya,rimpang jahe untuk bibit ini berasal dari pertatanaman khusus untuk bibit.Cara ini selain bisa diperoleh bibit yang terjamin mutunya juga lebih menjamin kontiunitas tersedianya bibit yang dibutuhkan.Dengan cara penyimpanan yang baik,maka diharapkan akan memperoleh bibit jahe yang baik pula,dan hasil panennya akan memuaskan
Caranya,jika bibit jahe yang dibutuhkan hanya sedikit,rimpang yang sudah dipilih dihamparkan di tempat terbuka tetapi tidak terkena sinar matahari secara langsung.Dengan cara ini,kulit rimpang jahe saja yang kering,sedangkan daging rimpang tetap segar.
Jika bibit jahe yang dibutuhkan dalam jumlah banyak,sebaiknya menggunakan rak bambu,rak kayu atau peti kayu yang tidak rapat.Juga bisa menggunakan keranjang bambu atau dalam karung yang bagian atasnya tetap terbuka dan tidak diisi penuh.Sementara ruang penyimpanannya harus mempunyai sirkulasi udara yang baik,cukup cahaya,tidak lembab dan tidak bocor.
Setelah kulit rimpang kering kemudian ditaburi abu dapur untuk menghin dari tumbuhnya jamur pada rimpang tersebut.Sebaiknya,rimpang jahe untuk bibit ini berasal dari pertatanaman khusus untuk bibit.Cara ini selain bisa diperoleh bibit yang terjamin mutunya juga lebih menjamin kontiunitas tersedianya bibit yang dibutuhkan.Dengan cara penyimpanan yang baik,maka diharapkan akan memperoleh bibit jahe yang baik pula,dan hasil panennya akan memuaskan
NB : ada cara yang lebih sederhana dalam pembenihan, pembibitan dan pola tanam jahe (hcsjabar@gmail.com)
![]() |
| Stockist HCS Bandung (Agung HCS00085) |

.png)
.png)
.png)

nyungkn cpna tiasa
BalasHapuskalau mau beli bibit jahe merah dmn ne tepatnya?
BalasHapuswilayah lampung kayaknya masih belum ada
BalasHapuskalau mau beli bibit jahe merah dmn ne tepatnya?
BalasHapusPengen coba tanam di ketinggian 1200.dari permukaan laut
BalasHapus