Jumat, 28 Juni 2013

MIKROBA UDARA....



Mungkinkah di udara terdapat bakteri, virus, spora jamur dan sebangsanya? Maka jawabannya ya! Bahkan banyak. Artikel berikut akan membahasa tentang mikroba yang mungkin ada di udara yang tiap hari kita hirup. Atmosfer tersusun atas 2 lapisan utama yaitu troposfer dan stratosfer. Troposfer tersusun atas lapisan laminar, lapisan turbulen, lapisan friksi luar, dan lapisan konveksi. Atmosfer mengandung partikel-partikel yang disebut sebagai aerosol, salah satu komponen aerosol yaitu bioaerosol yang terdiri antara lain mikroba dan pollen (Sofa, 2008).
Sebenarnya tidak benar-benar ada organisme yang hidup di udara, karena organisme tidak dapat hidup dan terapung begitu saja di udara. Flora mikroorganisme udara terdiri atas organisme yang terdapat sementara mengapung di udara atau terbawa serta pada partikel debu. Setiap kegiatan manusia agaknya menimbulkan bakteri di udara. Batuk dan bersin menimbulkan aerosol biologi (yaitu kumpulan partikel udara). Kebanyakan partikel dalam aerosol biologi terlalu besar untuk mencapai paru-paru, karena partikel-partikel ini tersaring pada daerah pernapasan atas. Sebaliknya, partikel-partikel yang sangat kecil mungkin mencapai tapak-tapak infektif yang berpotensi. Jadi, walaupun udara tidak mendukung kehidupan mikroorganisme, kehadirannya hampir selalu dapat ditunjukkan dalam cuplikan udara (Volk & Wheeler, 1989).
Mikroba di udara bersifat sementara dan beragam. Udara bukanlah suatu medium tempat mikroorganisme tumbuh, tetapimerupakan pembawa bahan partikulat debu dan tetesan cairan, yang kesemuanya ini mungkin dimuati mikroba. Untuk mengetahui atau memperkirakan secara akurat berapa jauh pengotoran udara sangat sukar karena memang sulit untuk menghitung organisme dalam suatu volume udara. Namun ada satu teknik kualitatif sederhana, menurut Volk & Wheeler (1989) yaitu mendedahkan cawan hara atau medium di udara untuk beberapa saat. Selama waktu pendedahan ini, beberapa bakteri di udara akan menetap pada cawan yang terdedah. Semakin banyak bakteri maka bakteri yang menetap pada cawan semakin banyak. Kemudian cawan tersebut diinkubasi selama 24 jam hingga 48 jam maka akan tampak koloni-koloni bakteri, khamir dan jamur yang mampu tumbuh pada medium yang digunakan. Jumlah dan macam mikroorganisme dalam suatu volume udara bervariasi sesuai dengan lokasi, kondisi cuaca dan jumlah orang yang ada. Daerah yang berdebu hampir selalu mempunyai populasi mikroorganisme atmosfer yang tinggi. Sebaliknya hujan, salju atau hujan es akan cenderung mengurangi jumlah organisme di udara dengan membasuh partikel yang lebih berat dan mengendapkan debu. Jumlah mikroorganisme menurun secara menyolok di atas samudera, dan jumlah ini semakin berkurang pada ketinggian (altitude) yang tinggi (Volk & Wheeler, 1989).
Menurut Irianto (2002), jumlah mikroorganisme yang mencemari udara juga ditentukan oleh sumber pencemaran di dalam lingkungan, misalnya dari saluran pernapasan manusia yang disemprotkan melalui batuk dan bersin, dan partikel-partikel debu, yang terkandung dalam tetes-tetes cairan berukuran besar dan tersuspensikan, dan dalam “inti tetesan” yang terbentuk bila titik-titik cairan berukuran kecil menguap. Organisme yang memasuki udara dapat terangkut sejauh beberapa meter atau beberapa kilometer; sebagian segera mati dalam beberapa detik, sedangkan yang lain dapat bertahan hidup selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan lebih lama lagi. Nasib akhir mikroorganisme yang berasal dari udara diatur oleh seperangkat rumit keadaan di sekelilingnya (termasuk keadaan atmosfer, kelembaban, cahaya matahari dan suhu), ukuran partikel yang membawa mikroorganisme itu, serta ciri-ciri mikroorganismenya terutama kerentanannya terhadap keadaan fisik di atmosfer.  

Kandungan mikroba di dalam udara
Meskipun tidak ada mikroorganisme yang mempunyai habitat asli udara, tetapi udara di sekeliling kita sampai beberapa kilometer di atas permukaan bumi mengandung berbagai macam jenis mikroba dalam jumlah yang beragam.
a. Udara di dalam ruangan
Tingkat pencemaran udara di dalam ruangan oleh mikroba dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti laju ventilasi, padatnya orang, dan sifat serta taraf kegiatan orang-orang yang menempati ruangan tersebut. Mikroorganisme dapat terhembuskan dalam bentuk percikan dari hidung dan mulut misalnya selama bersin, batuk dan bahkan saat bercakap-cakap. Titik-titik air yang terhembuskan dari saluran penapasan mempunyai ukuran yang beragam dari mikrometer sampai milimeter. Titik-titik air yang ukurannya jatuh dalam kisaran mikrometer yang rendah tinggal di udara sampai beberapa lama, tetapi yang berukuran besar segera jatuh ke lantai atau permukaan benda lain. Debu dari permukaan ini kadang-kadang akan berada dalam udara selama berlangsungnya kegiatan dalam ruangan tersebut.
b. Udara di luar atmosfer
Permukaan bumi, yaitu daratan dan lautan merupakan sumber dari sebagian besar mikroorganisme yang ada dalam atmosfer. Angin menimbulkan debu dari tanah, kemudian partikel-partikel debu tersebut akan membawa mikroorganisme yang menghuni tanah. Sejumlah besar air dalam bentuk titik-titik air memasuki atmosfer dari permukaan laut, teluk, dan kumpulan air alamiah lainnya. Di samping itu, ada banyak fasilitas pengolahan industri, pertanian, baik lokal maupun regional mempunyai potensi menghasilkan aerosol berisikan mikroorganisme. Beberapa contoh antara lain,
· Penyiraman air irigasi tanaman pertanian atau daerah hutan dengan limbah air.
· Pelaksanaan penebahan air skala besar.
· Saringan “tricling-bed” di pabrik-pabrik pembersih air.
· Rumah pemotongan hewan dan peleburan minyak.
Alga, protozoa, khamir, kapang, dan bakteri telah diisolasi dari udara dekat permukaan bumi. Contoh mengenai jasad-jasad renik yang dijumpai di atmosfer kota diperlihatkan pada tabel berikut:

Tinggi (meter)
Bakteri (genus)
Cendawan (genus)
1.500 – 4.500
Alcaligenes
Bacillus
Aspergillus
Macrosporium
Penicillium
4.500 – 7.500
Bacillus
Aspergillus
Clasdosporium
7.500 – 10.500
Sarcina
Bacillus
Aspergillus
Hormodendrum
10.500 – 13.500
Bacillus
Kurthia
Aspergillus
Hormodendrum
13.500 – 16.500
Micrococcus
Bacillus
Penicillium
Sumber: Irianto (2002)

Contoh udara tersebut diambil dari daerah perindustrian selama jangka waktu beberapa bulan. Bagian terbanyak dari mikroba yang berasal dari udara adalah spora kapang, terutama dari genus Aspergillus. Di antara tipe-tipe bakteri yang ditemukan ada bakteri pembentuk spora dan bukan pembentuk spora, basilus Gram positif, kokus Gram positif, dan basilus Gram negatif.

Komposisi udara
Komposisi baku udara yang kita hisap setiap saat, sudah diketahui sejak lama. Walaupun begitu, seiring dengan semakin kompleksnya masalah pencemaran udara, maka komposisi tersebut banyak yang berubah, khususnya karena dalam udara banyak komponen-komponen baru ataupun asing yang masuk. Dari data-data yang sudah ada, komposisi baku udara tersebut tersusun oleh komponen-komponen kimia antara lain, Nitrogen, Oksigen, Argon, CO2, Neon, Helium, metan, Kripton, N-Oksida, Hidrogen dan Xenon. Akan tetapi selain komponen-komponen kimia tersebut masih terdapat juga komponen lain yang bersifat hidup, yang pada umumnya berbentuk mikroba (Suriawiria, 1985).

Kelompok kehidupan di udara
Kelompok mikroba yang paling banyak berkeliaran di udara bebas adalah bakteri, jamur (termasuk di dalamnya ragi) dan juga mikroalge. Kehadiran jasad hidup tersebut di udara, ada yang dalam bentuk vegetatif (tubuh jasad) ataupun dalam bentuk generatif (umumnya spora). Menurut Suriawiria (1985), pencegahan kehadiran mikroba baik secara fisik ataupun kimia yang dapat dilakukan, yaitu:
· Secara fisik dengan penggunaan sinar-sinar bergelombang pendek (umumnya sinar UV) sebelum dan sesudah tempat dipergunakan, ataupun dengan cara penyaringan udara yang dialirkan ke dalam tempat atau ruangan tersebut.
· Secara kimia dengan penggunaan senyawa-senyawa yang bersifat membunuh mikroba, baik dalam bentuk larutan alkohol (55-75%), larutan sublimat, larutan AMC (HgCl2 yang diasamkan), dan sebagainya.
Kelompok mikroba yang paling banyak ditemukan sebagai jasad hidup yang tidak diharapkan kehadirannya melalui udara, umumnya disebut jasad kontaminan (hal ini mengingat apabila suatu benda/substrat yang ditumbuhinya dinyatakan sebagai substrat yang terkontaminasi). Adapun kelompok mikroba yang termasuk dalam jasad kontaminan antara lain adalah:
1. Bakteri: Bacillus, Staphylococcus, Pseudomonas, Sarcina dan sebagainya.
2. Jamur: Aspergillus, Mucor, Rhizopus, Penicillium, Trichoderma, dan sebagainya.
3. Ragi: Candida, Saccharomyces, Paecylomyces, dan sebagainya.

Banyak jenis dari jamur kontaminan udara yang bersifat termofilik, yaitu jamur yang tahan pada pemanasan tinggi di atas 800C, misal selama suatu benda/substrat sedang disterilkan. Ketahanan ini umumnya kalau mereka sedang berada di dalam stadia/ fase spora. Ini terbukti bahwa walaupun suatu substrat/media sudah disterilkan, tetapi di dalamnya setelah melewati waktu tertentu kemudian tumbuh dan berkembang pula bakteri ataupun jamur tanpa diharapkan sebelumnya (Suryawiria, 1985).
Ruangan tempat pembedahan di rumah-rumah sakit sangat dihindari sekali kehadiran mikroba kontaminannya. Karenanya ruangan tersbut akan di jaga kebersihannya sebelum dipergunakan untuk keperluan operasi secara menyeluruh (Suryawiria, 1985) .



Sumber:
Anonim a. 2006. Pengantar Mikrobiologi, (Online),
(http://www.wanna_share.23s9887_apm.html, diakses tanggal 7 Februari 2008).
Anonim b. 2007. Dunia Mikroba
Darkuni, M. Noviar. 2001. Mikrobiologi (Bakteriologi, Virologi, dan Mikologi). Malang: Universitas Negeri Malang.
Dwidjoseputro, D. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Imagraph.
Kusnadi, dkk. 2003. Mikrobiologi. Malang: JICA.
Schlegel, Hans G, dan Karin Schmidt. 1994. Mikrobiologi Umum edisi keenam. Terjemahan Tedjo Baskoro: Allgemeine Mikrobiologie 6. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Tarigan, Jeneng. 1988. Pengantar Mikrobiologi. Jakarta: Departeman Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Thieman, William J, and Michael A. Palladino. 2004. Introduction to Biotechnology. New York: Benjamin Cummings.

Jumat, 21 Juni 2013

TANAMAN JAHE



I.                    Mengenal Tanaman Jahe.      Identifikasi tanaman jahe, menyangkut bahasa ilmiah, wilayah tumbuh, uraian tumbuhan, kandungan kimia, kandungan manfaat dan macam-macam kegunaan lainnya.

·                     Latin                :
-  Zingiber officinale Rosc.
                        -  Z.o.var amarun (pahit)
                        -  Z.o.var rubrum (merah)

·                     Indonesia         : 
-  Jahe pahit (Z.o. var. Amarun)
                        -  Halia padi (rasanya amat tajam)
                        -  Sunti (Z.o. var.rubrum)
                        -  Halia barah atau H. Rubrum (merah)
                        -  Jae/ jhai
                        -  Bahing/ Pemedas /Sipadeh            

·                     English : Ginger
·                     Familia : Zingiberaceae

a.                   Asal Wilayah :
             Tumbuhan ini berasal dari Asia Selatan (India) dan RRC, kini ditemukan di wilayah
tropis dan subtropis, contohnya di Indonesia. Tanaman jahe biasanya ditanam di daerah
beriklim panas, terutama di tanah gembur, kering dan subur. Jahe yang amat baik dihasilkan
di Jamaika, Sri Langka dan Cina. Tanaman jahe bisa dipanen apabila daunnya telah
menguning.

b.                   Uraian Tumbuhan Jahe :
              Zinger officinale merupakan tumbuhan herba menahun yang tumbuh liar di ladang –
ladang berkadar tanah lmbab dan memperoleh banyak sinar matahari. Batangnya tegak,
berakar serabut dan berumbi dengan rimpang mendatar. Tumbuha semak berbatang semu ini
tingginya bisa mencapai 30cm – 1m. Rimpang jahe berkulit agak tebal membungkus daging
umbi yang berserat dan berwarna coklat beraoma khas. Bentuk daun bulat panjang dan tidak
lebar. Berdaun tunggal, berbentuk lanset dengan panjang antara 15 – 28mm. Bunga memiliki
2 kelamin dengan 1 benang sari dan 3 putik bunga. Bunga ini muncul pada ketiak daun
dengan posisi duduk. Biasanya jahe ditanam pada dataran rendah sampai dataran tinggi
(daerah subtropis dan tropis) diketinggian 1500m diatas permukaan laut. Akarnya akan
serabut.

Kandungan Kimia.       Rimpang jahe mengandung minyak atsiri, damar, mineral sineol,
fellandren, kamfer, borneol, zingiberin, zingiberol, gigero (misalnya di bagian-bagian merah),
zingeron, lipidas, asam aminos, niacin, vitamin A, B1, C dan protein. Minyak jahe merah
berwarna kuning dan kental. Minyak ini kebanyakan mengandung terpen, fellandren,
dextrokamfen, bahan sesquiterpen yang dinamakan zingiberen, zingeron damar, pati.

c.                   Kandungan dan Manfaat :
                          Menurut Farmakope Belanda, Zingiber Rhizoma (Rhizoma Zingiberis- akar jahe)
            yang berupa umbi Zingerber officinale mengandung 6% bahan obat-obatan yang sering
           dipakai sebagai rumusan obat-obatan atau sebagai obat resmi di 23 negara. Menurut daftar
           prioritas WHO, jahe merupakan tanaman obat-obatan yang paling banyak dipakai di dunia. Di
           negara Malaysia, Filipina dan Indonesia telah banyak ditemukan manfaat therapeutis. Sejak
           dulu Jahe dipergunakan sebagai obat, atau bumbu dapur dan aneka keperluan Iainnya. Jahe
           dapat merangsang kelenjar pencernaan, baik untuk membangkitkan nafsu makan dan
           pencernaan. Jahe berguna sebagai obat gosok untuk penyakit encok dan sakit kepala. Jahe
           segar yang ditumbuk halus dapat digunakan sebagai obat luar untuk sebagai obat mulas. Rasa
           dan aromanya pedas dapat menghangatkan tubuh dan mengeluarkan keringat. Minyak
           atsirinya bermanfaat untuk menghilangkan nyeri, anti inflamasi dan anti bakteri. Air perasan 
           umbinya (akar tongkat) digunakan untuk penyakit katarak. Pada umumnya jahe dipakai
           sebagai pencampur beberapa jenis obat yaitu sebagai obat batuk, rnengobati Iuka luar dan
           dalam ,melawan gatal (umbinya ditumbuk haIus) dan untuk mengobati gigitan ular.

d.                   Kegunaan lain :

* Sakit kepala / migrain
* Batuk
* Masuk Angin
* Rematik, nyeri pinggang, nyeri punggung
* Mengeluarkan gas dari perut
* Bengkak-bengkak (rimpangnya)
* Mual, mabuk di perjalanan
* Eksem
* Panu
* Terkilir
* Vitiligo (bercak putih karefla kehilangan pigmen)
* Borok
* Digigit ular
* Gatal karena gigitan serangga
* Penyakit cacing gelang

II.                  Jenis Tanaman Jahe
Jahe dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan ukuran, bentuk dan warna rimpangnya. Umumnya dikenal 3 varietas jahe, yaitu :


a.                   Jahe putih/kuning besar  atau disebut juga jahe gajah atau jahe badak Rimpangnya lebih besar dan gemuk, ruas rimpangnya lebih menggembung dari kedua varietas lainnya. Jenis jahe ini bias dikonsumsi baik saat berumur muda maupun berumur tua, baik sebagai jahe segar maupun jahe olahan.

b.                   Jahe putih/kuning kecil  atau disebut juga jahe sunti atau jahe emprit Ruasnya kecil, agak rata sampai agak sedikit menggembung. Jahe ini selalu dipanen setelah berumur tua. Kandungan minyak atsirinya lebih besar dari pada jahe gajah, sehingga rasanya lebih pedas, disamping seratnya tinggi. Jahe ini cocok untuk ramuan obat-obatan, atau untuk diekstrak oleoresin dan minyak atsirinya.

c.                   Jahe merah.    Rimpangnya berwarna merah dan lebih kecil dari pada jahe putih kecil sama seperti jahe kecil, jahe merah selalu dipanen setelah tua, dan juga memiliki kandungan minyak atsiri yang sama dengan jahe kecil, sehingga cocok untuk ramuan obat-obatan.


III.                Syarat Pertumbuhan tanaman jahe


a.                   Syarat pertumbuhan tanaman jahe iklim :

1.                   Tanaman jahe membutuhkan curah hujan relatif tinggi, yaitu antara 2.500-4.000 mm/tahun.
2.                   Pada umur 2,5 sampai 7 bulan atau lebih tanaman jahe memerlukan sinar matahari. Dengan kata lain penanaman jahe dilakukan di tempat yang terbuka sehingga mendapat sinar matahari sepanjang hari.
3.                   Suhu udara optimum untuk budidaya tanaman jahe antara 20-35°C.

b.                   Media tanam :

1.                   Tanaman jahe paling cocok ditanam pada tanah yang subur, gembur dan banyak mengandung humus.
2.                   Tekstur tanah yang baik adalah lempung berpasir, liat dan tanah laterik.
3.                   Tanaman jahe dapat tumbuh pada keasaman tanah (pH) sekitar 4,3-7,4. Tetapi keasaman tanah (pH) optimum untuk jahe gajah adalah 6,8-7,0.

c.                   Ketinggian tempat :

1.                   Jahe tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis dengan ketinggian 0 - 2.000 m dpl.
2.                   Di Indonesia pada umumnya ditanam pada ketinggian 200 - 600 m dpl.


IV.               Memilih Bibit Jahe Berkualitas

Memilih bibit berkualitas adalah bibit yang memenuhi syarat mutu genetik, mutu fisiologik (persentase tumbuh yang tinggi), dan mutu fisik. Yang dimaksud dengan mutu fisik adalah bibit yang bebas hama dan penyakit.


Oleh karena itu kriteria yang harus dipenuhi antara lain :
a.                   Bahan bibit diambil langsung dari kebun (bukan dari pasar).
b.                   Dipilih bahan bibit dari tanaman yang sudah tua (berumur 9-10 bulan).
c.                   Dipilih pula dari tanaman yang sehat dan kulit rimpang tidak terluka atau lecet.

V.                 Teknik Penyemaian Bibit Jahe

Untuk pertumbuhan tanaman yang serentak atau seragam, bibit jangan langsung ditanam sebaiknya terlebih dahulu dikecambahkan. Penyemaian bibit dapat dilakukan dengan peti kayu atau dengan bedengan.

a.      Penyemaian Jahe pada Peti Kayu.
Rimpang jahe yang baru dipanen dijemur sementara (tidak sampai kering), kemudian disimpan sekitar 1-1,5 bulan. Patahkan rimpang tersebut dengan tangan dimana setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas dan dijemur ulang ½-1hari. Selanjutnya potongan bakal bibit direndam dengan larutan PHEFOC selama 20menit kemudian ditiriskan dan direndam lagi dengan larutan SOT selama 1 X 24jam lalu masukkan kedalam peti kayu. Lakukan cara penyemaian dengan peti kayu sebagai berikut:
·       Pada bagian dasar peti kayu diletakkan bakal bibit selapis, kemudian di atasnya diberi abu gosok atau sekam padi yang sudah difermentasi SOT, demikian seterusnya sehingga yang paling atas adalah abu gosok atau sekam padi (bisa dilaksanakan sampai dengan 3 lapis). Setelah 2-4 minggu bibit jahe tersebut sudah siap disemai ke polibek kecil (1Kg).

b.      Penyemaian Jahe pada Bedengan.
Buat rumah penyemaian sederhana 10 X 8m untuk menanam bibit 1 Ton (kebutuhan Jahe seluas 1 Ha). Didalam rumah penyemaian tersebut dibuat bedengan dari tumpukan jerami setebal 10 cm. Rimpang bakal bibit disusun pada jerami lalu ditutup jerami, dan di atasnya diberi rimpang lalu diberi jerami pula demikian seterusnya, sehingga didapat 4 susunan lapis rimpang dengan bagian atas berupa jerami. Perawatan bibit pada bedengan dapat dilakukan dengan penyiraman setiap hari dengan larutan SOT dan jeda 3 hari dilakukan penyemprotan larutan PHEFOC  begitu seterusnya sampai usia 2 minggu. Kemudian bakal bibit diseleksi dan dipatah-patahkan dengan tangan, setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas  dan beratnya 40-60 gram.

c.       Penyiapan Bibit/ peremaian dalam polibek.
Sebelum ditanam, bibit harus dibebaskan dari ancaman penyakit dengan cara bibit tersebut direndam dengan larutan PHEFOC selama 20 menit kemudian ditiriskan dan direndam lagi dengan larutan SOT selama 1 X 24 jam tiriskan kembali, bibit siap ditanam dalam polibek kecil ukuran 1 Kg yang berisi media bokasih olahan fermentasi SOT. Setelah tunas setinggi 10 Cm siap dipindahkan karung besar dengan isi media setinggi 30 cm
dan dicelupkan ke dalam larutan fungisida sekitar 8 jam. Kemudian bibit dijemur 2-4 jam, barulah ditanam.

VI.               Kiat Menyimpan Bibit Jahe

 
Menyimpan bibit jahe (Zingiher officinal) tidak terlepas dari bibit jahe yang ditanam. Dengan demikian tanaman sudah dirawat baik, tetapi jika bibit yang ditanam kualitasnya jelek maka hasil yang diperoleh akan kurang memuaskan. Namun, masalah bibit ini seringkali diabaikan oleh para petani dan mereka masih sering menggunakan bibit jahe yang berkualitas jelek.
Dalam hal ini misalnya menggunakan bibit yang belum cukup tua, mengandung hama maupun penyakit. Nah, supaya jahe yang ditanam hasilnya memuaskan, selain tanaman harus dirawat dengan baik dan ditanam pada tempat yang cocok, juga bibinya harus baik pula.

a.                   Syarat rimpang jahe yang baik untuk tanam yaitu :

1.                   Rimpang jahe yang berasal dari tanaman jahe berumur sekitar 10-12 bulan, yang ditandai oleh tajuk batangnya yang mulai mengering.
2.                   Kulit rimpangnya licin dan keras.
3.                   Tidak mudah mengelupas
4.                   Warna mengkilap dan menampakkan tanda bertunas
5.                   Kandungan serat rimpangnya tinggi dan kasar.
6.                   Rimpangnya terbebas dari penyakit dan hama.

1)                   Rimpang jahe yang terserang penyakit yakni : 

a)                   Warna kulitnya tidak cerah,berkerut dan lembek,juga daging rimpang berair
b)                   Warnanya kusam kecokelatan atau ada bagian yang membusuk

2)                   Rimpang jahe yang terkena hama yakni :
-                       Terdapat lubang-lubang kecil yang merupakan tanda bahwa rmpang jahe tersebut diserang hama lalat rimpang.

3)                   Bibit yang sudah menunjukkan adanya gejala serangan hama-penyakit,maka sebaiknya jangan ditanam,karena hasilnya akan mengecewakan ( terjangkit penyakit bakteri Pseudomonas solanacearum atau cendawan/Rhizoctonia solani maupun hama lalat rimpang/Mimegralla coeruleifrons dan Enmerus figurans). Adapun rimpang jahe (bibit) yang baik untuk ditanam sedikitnya mempunyai 3-5 mata tunas,beratnya sekitar 20-40 gram untuk bibit jahe emprit (jahe kecil),dan untuk bibit jahe besar (jahe gajah) sekitar 25-60 gram.

Persoalannya,bibit yang terserang
hama penyakit tersebut jika ditanam akan terbawa masuk ke lahan penanaman dan tanaman yang tumbuh nantinya juga tidak baik,yang akhirnya hasil panen yang diperoleh tidak akan memuaskan,bahkan bisa mengalami gagal panen.Karena itu,bibit jahe yang akan ditanam harus jelas asal-usulnya.
 
 Apabila para petani mengalami kesulitan untuk memperoleh bibit jahe yang baik untuk ditanam,maka kita pun dapat mempersiapkan bibit sendiri.

Caranya,jika bibit jahe yang dibutuhkan hanya sedikit,rimpang yang sudah dipilih dihamparkan di tempat terbuka tetapi tidak terkena sinar matahari secara langsung.Dengan cara ini,kulit rimpang jahe saja yang kering,sedangkan daging rimpang tetap segar.

Jika
bibit jahe yang dibutuhkan dalam jumlah banyak,sebaiknya menggunakan rak bambu,rak kayu atau peti kayu yang tidak rapat.Juga bisa menggunakan keranjang bambu atau dalam karung yang bagian atasnya tetap terbuka dan tidak diisi penuh.Sementara ruang penyimpanannya harus mempunyai sirkulasi udara yang baik,cukup cahaya,tidak lembab dan tidak bocor.

Setelah kulit rimpang kering kemudian ditaburi abu dapur untuk menghin dari tumbuhnya jamur pada rimpang tersebut.Sebaiknya,rimpang jahe untuk bibit ini berasal dari pertatanaman khusus untuk bibit.Cara ini selain bisa diperoleh bibit yang terjamin mutunya juga lebih menjamin kontiunitas tersedianya bibit yang dibutuhkan.Dengan cara penyimpanan yang baik,maka diharapkan akan memperoleh bibit jahe yang baik pula,dan hasil panennya akan memuaskan

NB : ada cara yang lebih sederhana dalam pembenihan, pembibitan dan pola tanam     jahe (hcsjabar@gmail.com)  
Stockist HCS Bandung (Agung HCS00085)